KARAWANG, Netizennews.click | Senja belum sepenuhnya turun ketika langkah-langkah kecil itu mulai menyusuri gang sempit di Kelurahan Sukamakmur, Karawang, Selasa (17/3/2026).
Di tangan mereka, bukan sekadar bingkisan. Ada niat yang lebih dalam: menghadirkan kehangatan bagi mereka yang kerap luput dari perhatian.
Di sebuah rumah sederhana, seorang lansia menyambut dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tak datang ke acara, bukan karena tak ingin, melainkan karena tubuhnya tak lagi sekuat dulu. Namun, kali ini, bantuan justru yang datang menghampiri.
Inilah wajah lain dari kegiatan Iftar Party yang digelar EM Health Medical Center. Di balik tema “Sharing Warmth, Sharing Blessings”, tersimpan upaya untuk menjadikan berbagi sebagai sesuatu yang benar-benar dirasakan—bukan sekadar acara, tetapi perjumpaan.
Program ini menyasar anak yatim, dhuafa, dan lansia di Kelurahan Sukamakmur, Desa Jayamakmur, hingga Telagasari.
Tidak semua berkumpul dalam satu tempat. Sebagian justru ditemui di ruang-ruang sunyi rumah mereka.
Direktur EM Health Medical Center, dr. Eka Puspita Notonogoro, memahami betul bahwa kebahagiaan tak selalu harus dikumpulkan dalam keramaian.
“Ada yang tidak bisa datang karena kondisi fisik. Maka, kami yang mendatangi. Bagi kami, berbagi bukan soal besar kecilnya bantuan, tetapi tentang hadir dan peduli,” tuturnya.
Bagi dr. Eka, Ramadan memang menghadirkan ruang untuk berbagi. Namun, ia tak ingin semangat itu berhenti setelah bulan suci berlalu.
“Kami ingin ini menjadi kebiasaan. Bukan hanya di Ramadan, tetapi setiap bulan. Sedikit, tapi istiqomah. Karena keberkahan itu lahir dari konsistensi,” katanya.
Di tengah kesibukan layanan kesehatan, EM Health memilih meluangkan waktu untuk menyapa sisi lain dari kehidupan masyarakat—yang sering kali tak terlihat dalam statistik, tetapi terasa dalam keheningan.
Di lokasi lain, anak-anak yatim berkumpul dengan wajah ceria. Tawa mereka pecah sederhana, namun cukup untuk menjelaskan bahwa perhatian, sekecil apa pun, punya arti yang besar.
Kegiatan ini juga melibatkan Lurah Sukamakmur serta para ustaz setempat. Kehadiran mereka bukan sekadar formalitas, tetapi menjadi penguat bahwa kepedulian adalah kerja bersama.
Bagi EM Health, kesehatan tidak berhenti pada diagnosa dan pengobatan. Ada dimensi lain yang tak kalah penting: rasa tenang, dihargai, dan tidak dilupakan.
“Kesehatan itu bukan hanya soal fisik. Ada kesejahteraan sosial di dalamnya. Ketika seseorang merasa diperhatikan, itu juga bagian dari penyembuhan,” ujar dr. Eka.
Menjelang waktu berbuka, langit Karawang perlahan berubah warna. Di antara doa yang dipanjatkan, ada harapan yang diam-diam tumbuh—bahwa kebaikan seperti ini tak berhenti di satu waktu.
Di rumah-rumah sederhana yang disinggahi, mungkin tak ada kemewahan. Namun, hari itu, ada sesuatu yang terasa lebih berharga: kehadiran.
Dan dari sanalah, kebahagiaan itu benar-benar sampai.
Menurut dr. Eka, semangat berbagi yang diusung EM Health tidak hanya berfokus pada bantuan materi, tetapi juga membangun kedekatan emosional dengan masyarakat.
“Ramadan adalah momen terbaik untuk berbagi. Namun lebih dari itu, kami ingin menghadirkan kehangatan dan keberkahan yang bisa dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa EM Health tidak hanya hadir sebagai penyedia layanan kesehatan, tetapi juga sebagai bagian dari komunitas yang memiliki kepedulian sosial.
“Kami percaya bahwa kesehatan tidak hanya menyangkut fisik, tetapi juga kesejahteraan sosial. Karena itu, kami berkomitmen untuk terus hadir dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ungkapnya.
Kegiatan ini pun mendapat sambutan positif dari masyarakat. Para penerima manfaat mengaku terbantu dan berharap program serupa dapat terus berlanjut.
Dengan konsistensi program berbagi yang dilakukan, EM Health Medical Center menunjukkan komitmennya dalam membangun kepedulian sosial, sekaligus memperkuat nilai kemanusiaan di tengah masyarakat Karawang.





















