KARAWANG | netizennews.click | – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Karawang memanfaatkan lahan kosong di dalam area lapas untuk mengembangkan program ketahanan pangan. Lahan tersebut digunakan untuk berbagai kegiatan, mulai dari pertanian, peternakan hingga perikanan yang melibatkan warga binaan secara langsung.
Kalapas Karawang, Ma’ruf Prasetyo mengatakan, dari sekitar 3 hektare lahan yang tersedia, sebanyak 1,7 hektare di antaranya dimanfaatkan sebagai lahan pertanian.
Pemanfaatan lahan tersebut dinilai sesuai dengan karakteristik Kabupaten Karawang yang selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil padi.
“Lapas Karawang mempunyai lahan idle seluas 3 hektare, dan 1,7 hektarenya digunakan untuk lahan pertanian karena Karawang terkenal dengan keunggulan padinya,” kata Ma’ruf.
Sementara lahan lainnya dibagi menjadi sejumlah plot yang dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan ketahanan pangan. Pengembangan program tersebut juga menjadi bagian dari dukungan Lapas Karawang terhadap program Asta Cita Presiden serta program Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.
Bagi Lapas Karawang, kegiatan tersebut bukan hanya bertujuan menghasilkan pangan, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembinaan warga binaan. Mereka dilibatkan secara langsung agar memiliki keterampilan yang dapat menjadi bekal setelah kembali ke tengah masyarakat.
Salah satu kegiatan yang dikembangkan yakni peternakan ayam Kampung Unggul Balitbang atau KUB. Jenis ayam tersebut dipilih karena memiliki produktivitas telur yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan ayam kampung biasa.
Warga binaan juga mendapatkan pelatihan mengenai proses penetasan telur ayam KUB. Anak ayam yang telah menetas nantinya dapat dipasarkan atau dipelihara hingga menjadi ayam pedaging.
Dalam pemeliharaannya, ayam diberi pakan dua kali sehari, yakni pada pagi dan sore hari.
Selain ayam, Lapas Karawang juga mengembangkan peternakan domba pedaging. Beberapa jenis yang dikembangkan di antaranya Dorper, Texel, Merino dan Suffolk.
Kalapas Karawang, Ma’ruf Prasetyo mengatakan, dari sekitar 3 hektare lahan yang tersedia, sebanyak 1,7 hektare di antaranya dimanfaatkan sebagai lahan pertanian.
Pemanfaatan lahan tersebut dinilai sesuai dengan karakteristik Kabupaten Karawang yang selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil padi.
“Lapas Karawang mempunyai lahan idle seluas 3 hektare, dan 1,7 hektarenya digunakan untuk lahan pertanian karena Karawang terkenal dengan keunggulan padinya,” kata Ma’ruf.
Sementara lahan lainnya dibagi menjadi sejumlah plot yang dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan ketahanan pangan. Pengembangan program tersebut juga menjadi bagian dari dukungan Lapas Karawang terhadap program Asta Cita Presiden serta program Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.
Bagi Lapas Karawang, kegiatan tersebut bukan hanya bertujuan menghasilkan pangan, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembinaan warga binaan. Mereka dilibatkan secara langsung agar memiliki keterampilan yang dapat menjadi bekal setelah kembali ke tengah masyarakat.
Salah satu kegiatan yang dikembangkan yakni peternakan ayam Kampung Unggul Balitbang atau KUB. Jenis ayam tersebut dipilih karena memiliki produktivitas telur yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan ayam kampung biasa.
Warga binaan juga mendapatkan pelatihan mengenai proses penetasan telur ayam KUB. Anak ayam yang telah menetas nantinya dapat dipasarkan atau dipelihara hingga menjadi ayam pedaging.
Dalam pemeliharaannya, ayam diberi pakan dua kali sehari, yakni pada pagi dan sore hari.
Selain ayam, Lapas Karawang juga mengembangkan peternakan domba pedaging. Beberapa jenis yang dikembangkan di antaranya Dorper, Texel, Merino dan Suffolk.
Menurut Ma’ruf, jenis domba pedaging tersebut masih belum banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia. Padahal, domba tersebut memiliki keunggulan dari sisi produksi daging.
“Domba pedaging ini adalah ras domba yang memiliki karkas daging jauh lebih banyak dibandingkan domba Garut,” ujarnya.
Lapas Karawang juga mengembangkan program penggemukan sapi. Pemilihan peternakan sapi dilakukan dengan mempertimbangkan potensi wilayah Karawang yang memiliki banyak lahan persawahan.
Jerami yang dihasilkan dari aktivitas pertanian dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan pakan sapi. Dengan demikian, sektor pertanian dan peternakan dapat saling mendukung.
“Di Karawang sendiri banyak lumbung pangan padinya. Jerami itu sebagai salah satu pakan untuk ternak sapi,” kata Ma’ruf.
Sektor perikanan juga menjadi bagian dari program tersebut. Saat ini terdapat lima jenis ikan yang diternakkan di lingkungan Lapas Karawang, yakni lele, nila, ikan mas, patin dan koi.
Seluruh kegiatan tersebut melibatkan warga binaan secara langsung. Mereka ikut dalam kegiatan bercocok tanam, beternak hingga melakukan pemeliharaan ikan.
“Warga binaan terlibat langsung dalam semua kegiatan beternak dan bercocok tanam,” jelasnya.
Dikunjungi Peserta PKL UNIKOM Bandung
Program ketahanan pangan Lapas Karawang tersebut juga menjadi salah satu hal yang menarik perhatian peserta Praktik Kerja Lapangan (PKL) dari Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) Bandung yang menjalani kegiatan di TerasPasundan Mediatama.
Dalam kunjungan tersebut, peserta PKL, Annisa, Khayla dan Syakra berkesempatan melihat secara langsung berbagai aktivitas yang ada di lingkungan Lapas Karawang, khususnya kawasan yang dikenal sebagai Laskar Farm.
Laskar Farm menjadi salah satu area yang memperlihatkan secara langsung bagaimana program ketahanan pangan dikembangkan di lingkungan lapas. Di kawasan tersebut, mereka melihat berbagai jenis hewan yang dipelihara, mulai dari ayam, sapi dan domba hingga ikan.
Bagi Annisa, Khayla dan Syakra, kunjungan tersebut memberikan pengalaman sekaligus pengetahuan baru. Mereka tidak hanya melihat hasil dari program ketahanan pangan, tetapi juga mendapatkan edukasi mengenai proses pemeliharaan hewan dan pemanfaatan lahan di dalam lapas.
“Lapas Karawang sangat mengedukasi mengenai Laskar Farm yang mengenalkan kepada kami berbagai macam hewan, seperti ayam, sapi, domba, dan ikan, semoga Lapas Karawang semakin maju.” kata Annisa.
Menurut mereka, keberadaan Laskar Farm memberikan gambaran bahwa lingkungan lapas tidak hanya menjadi tempat menjalani masa pembinaan, tetapi juga dapat menjadi ruang belajar dan pengembangan keterampilan.
Ketiganya mengaku sangat teredukasi setelah melihat langsung kegiatan pertanian dan peternakan yang melibatkan warga binaan.
Kunjungan tersebut juga memberikan kesan tersendiri bagi para peserta PKL karena mereka dapat melihat secara langsung bagaimana warga binaan diberikan kesempatan untuk belajar dan bekerja dalam berbagai kegiatan produktif.
Bagi mereka, Laskar Farm menjadi contoh bahwa program pembinaan dapat dikembangkan melalui kegiatan yang dekat dengan kebutuhan masyarakat, khususnya di bidang pertanian, peternakan dan perikanan.
Kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa proses pembinaan warga binaan tidak hanya dilakukan melalui pendekatan di dalam ruang, tetapi juga melalui praktik langsung yang dapat membentuk keterampilan dan kemandirian.
Kalapas Karawang menilai kegiatan ketahanan pangan menjadi salah satu cara untuk memberikan ruang pembinaan yang lebih luas bagi warga binaan.
Dari lingkungan lapas, mereka tidak hanya menjalani masa pembinaan, tetapi juga belajar berbagai keterampilan yang dapat dimanfaatkan ketika nantinya kembali ke tengah masyarakat.
Menurutnya, pengembangan ketahanan pangan juga penting untuk mendorong kemandirian pangan. Karena itu, Lapas Karawang berupaya mengambil bagian melalui pemanfaatan lahan yang tersedia di lingkungan lapas.
“Kalau ketahanan pangan itu ditingkatkan, maka semakin banyak wadah-wadah warga binaan untuk bisa kita bina,” pungkasnya.





















